Tentang Menilai Orang

"Heii, heii, liattt. Snapgram nya ke mall mulu ya. Kayaknya dia orang nya hedon dehh." 
"Guyss, liat inii (sambil menyodorkan gadgetnya). Dia udah ganti pacar lagii, kasian banget ya si itu. Gak nyangka dia orang nya setega itu."
"Heii, liat inii. Dia udah berhijab sekarang. Hmm, udah mau alim kali yaa. Uhh dulu kalian tau kan pakaian nya gimana. Hehehe."



Media Sosial menjadi dunia yang akrab dengan milenials dewasa ini. Dari baru saja membelalakkan mata di pagi hari. Sampai mau merebahkan badan untuk menutup mata hendak beristirahat. Gadget seakan melekat menemani kehidupan milenials. Dan media sosial adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam hidup mereka sekarang ini. 



Sosial media menyediakan informasi, berita terkini, pengetahun, hiburan, akses berkomunikasi, bahkan lapak untuk para milenials untuk berniaga. Media Sosial  menyediakan apa yang milenials butuhkan. Namun, seiring berjalannya waktu. Media Sosial terus berkembang pesat. Berbagai  kemudahan ditawarkan oleh nya dengan adanya fitur-fitur yang memudahkan milenials. Mengapa tidak, jika milenials mau khalayak mengetahui mereka sedang dimana, sedang apa, dan sedang dalam kondisi apa. Media Sosial menawarkan fitur untuk mereka merekam jejak hidup keseharian mereka. Dalam sebuah gambar atau sebuah video yang menarik. Yang membuat khalayak secara tidak langsung "melihat" bagian dari kehidupan mereka. Secara tidak langsung, kita semua hampir bisa melihat keseharian setiap orang dalam jejaring sosial media. Walaupun tidak setiap orang mempublikasikannya. Di zaman yang serba teknologi ini, terkadang juga menimbulkan perbedaan persepsi dan perbedaan opini dengan fakta sesungguhnya. 


Haruslah kita ingat, media sosial  dibuat untuk manusia dapat mengekspresikan dirinya, mengabadikan momen dan juga media menyampaikan pendapatnya. Namun, tidaklah bisa katakan. Tiap rekaman jejak setiap orang di sosial media menggambarkan dirinya seperti apa. 

Ada orang yang jarang bahkan tidak pernah menggunakan media sosial. Bukan karena mereka tidak mampu, mungkin saja mereka lebih suka bersosial di dunia nyata. Tidak mau mempulikasikan hidup nya kepada khalayak. Dan itu sah sah saja. Kepasifan mereka adalah pilihan. Didunia nyata, bisa jadi mereka sangat aktif. Membantu orang, membangun daerahnya, ataupun rajin beribadah. Berbanding terbalik dengan keaktifan mereka di media sosial . Maka, kita tidak bisa menilai seseorang hanya dalam lingkup media sosial. 




Ada juga tipe orang yang sesekali menggunakan media sosial. Bukan berarti kuota internet mereka terbatas. Mungkin, mereka lebih suka mengabadikan momen yang benar-benar mereka anggap "pantas" untuk dikonsumsi publik. Namun, bukan berarti mereka tidak peduli dengan media sosial. Barangkali, mereka lebih memilih untuk fokus terhadap dunia nya. Fokus mengembangkan keahlian, hobbi, ataupun softskill mereka. Dibanding berkutat di dunia maya. Itu adalah pilihan mereka. Dan tentu mereka tahu harus mempergunakan media sosial dalam kondisi apa. Maka, kita tidak berhak sama sekali menilai mereka hanya sebatas dari akun media sosial yang mereka miliki. 



Dan ada juga tipe orang yang sangat aktif berselancar di dunia maya. Mereka tanggap dan aktif dalam beberapa media sosial  yang ada. Itu bukan berarti mereka gak ada kerjaan. Kita tidak pernah tahu. Bisa jadi mereka aktif di media sosial  karena memang ladang mencari rezekinya disitu. Mungkin ada juga yang memanfaatkan media sosial  sebagai sumber mereka mencari ilmu pengetahuan dan wawasan. Ada juga mungkin yang menggunakan media sosial sebagai tempat melepas penat mereka, dengan mengharap pada konten hiburan yang bisa membangkitkan gairah dan semangat hidup mereka. Bahkan, ada juga mungkin yang menjadikan media sosial sebagai tempat bekerja mereka. Bisa jadi, mereka juga sama aktifnya didunia nyata. Menebar kebaikan, kebermanfaatan, dan bantuan terhadap lingkungan sekitarnyaa. Kita semua tidak ada yang pernah tahu. Maka dari itu, kita sebaiknya jangan asal menilai orang lain hanya sebatas dari sosial media. Karena kita tidak pernah tahu aktivitas kehidupan mereka di dunia nyata. 



Menilai orang adalah hak yang kita miliki. Namun, alangkah baiknya untuk menilai orang dengan bijak. Media Sosial yang dimiliki oleh seseorang tidak selamanya menggambarkan sifat apalagi kepribadian mereka. Nilailah setiap orang dari sifat, kepribadian, penampilan ataupun kebiasaan mereka yang pernah mata kepala kita lihat secara langsung. Jangan hanya mengandalkan sosial media. Itu adalah tolak ukur yang paling bijak.

Comments

Post a Comment

Popular Posts